LONGDISTANCE
Berbicara
tentang " LONGDISTANCE " apa yang mungkin terbayangkan oleh temen2
semua. Pasti yang terbayang langsung adalah jarak, miscommunication atau yang paling parah putus.oooo tidakkk!!!
Siapa yang setuju
longdistance adalah suatu hubungan yang menantang, Mugkin kali ini aku setuju
dengan opini itu. Tapi ntuk berapa lama kita sanggup mempertahankannya, berapa
lama kita sanggup berpura2 bahagia menjalani hubungan yang hanya bisa di
ungkapkan lewat telfon, fb, BBm atau twitter. Mugkin aku adalah salah seorang yang tidak pecinta hubungan longdistance. Bukan karena aku tipe cewek pecemburu
atau tdk prcaya dengan pasangan, Malah dengan tdk menjalani longdistance aku
bisa menghindari berbagai persoalan yg tdk nyaman akhirnya.Tapi bkn berarti aku
tidak pernah berhasil mnjalani longdistance.
Terbukti sampe 2 tahun aku tetap
setia menunggu kekasihku, Gak tau lah dengan dia disana. Karena menurutku klw sudah berlayar harus
siap2 menerjang ombak, sekalipun itu ombak besar. Tidak tanggung tanggung semua cobaan akan ku coba mengarunginya satu persatu.
Berbagai macan gosip yang
tdk sedap tentang dia pernah ku alami, Berbagai macam teror tlfn yang mengaku
jadi pacarnya dsna. Tapi terbukti dalam jangka waktu yg cukup lama kami ttp
bertahan walupun endingnya kami tdk bersama. Itu bukan dikarena dia selngkuh atau aku tertarik dengan yg lain, Tapi lebih dikarenakan tuntutan keluarganya yang memaksanya ntuk
segera berkeluarga, Tidak dapat dipungkiri mugkin factor anak sulung dan usianya
jg udah sepatutnya untuk segera naik kepelaminan.
Aku yang blom kepikiran ntuk merid di usia muda harus mundur teratur. Dengan besar hati dan mengharap yg
terbaik dari hubungan kami makanya kami mengakhiri hubungan ini. Sudah terlalu banyak kisah yang kami ukir bersama. Terlalu banyak cerita yang kami susun dan tertata rapi disana, bahkan disaat ego menguasai jiwa. Tapi apa daya takdir berkata lain. mungkin kami tidak jodoh. Itulah kata2 yang selalu menjadi penyemangat dikala hati ku gundah. Aku juga tidak ingin melawan sesuatu yang telah di gariskan yang kuasa kepadaku, karena ku yakin kebahagiaan sedang menungguku,aminnnn ^_^
Klimaksnya aku tdk ingin lagi menjalani longdistance bkn
dikarena kan aku takut atau trauma, Tapi karena aku merasa longdistance bukan
membuatku lebih baik tapi malah sebaliknya. Tidak ingin disebut munafik, aku jg tdk
membantah terkadang rasa ingin diperhatikan tanpa adanya jarak yang memisahkan
itu muncul dari benak ku. Ku hnya ingin seperti pasangan yang lain. Disaat aku sedih ada seseorang yang dengan
setia meminjamkan bahunya ntuk ku
bersandar dan dengan setia menghapus setiap air mata yang keluar dari mataku.
Apakah itu terlalu
berlebihan atau aku dianggap lebayyy…
Tapi ku fikir itu
sangat manusiawi kok dan merupakan satu hal yang lumrah karena setiap kita butuh
diperhatikan cuma cara ntuk meluapkannya berbeda beda.
" TAPI ITU LAH CARAKU "

Tidak ada komentar:
Posting Komentar